Pages

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 November 2012

Rindu Dan Cahayanya

Posted by Unknown Kamis, November 15, 2012, under , | No comments


seperti sebatang pohon yang melepas gugur daun-daun setiap hari, seperti itulah kita melepas gugur kata-kata rindu di setiap waktu. tertiup angin yang tak pernah tegas dengan warnanya, ambigu.

dan kita juga tahu, bahwa di setiap waktu selalu tumbuh pucuk-pucuk dedaunan yang baru.

ahh...mungkin rinduku akan serupa angin, selalu masuk dan mengisi ruang-ruang yang kosong. menyalakan api di
dada-dada puisi.

tapi hari ini, hausku menjelma sungai, mengaruskan guguran daun-daun ke sebuah muara yang lebih pasti...doa cita...

"bahwa di tengah muara, menjelma delta dari arus lumpur hulu, masalalu"

di sanalah pulau harapan. subur menumbuhkan pohon-pohon baru.
mungkin dengan cinta yang baru...sama menjelma cahaya.

.......

pernah kutulis ini, "dan angin dinginmu menghangatkan tubuhku, menanti dedaunan runtuh, di mana hatiku rebah..."


Minggu, 04 November 2012

HATIKU MENYAPA DENGAN CINTA

Posted by Unknown Minggu, November 04, 2012, under ,, | No comments


Kabut membawa rasa cinta sebening embun
Tatkala janji menjalin kasih ditawarkan
Hatiku menyapa dengan cinta
Malam tak mampu memutuskan kisah
Tentang perjalanan hidupku menembus ruang waktu
Aku berjalan dengan cinta
Dan memberi banyak waktu untuk cinta
Jawaban hatiku adalah aku bisa
Aku bisa berjalan sendiri dengan nurani cinta

Semua rasaku seakan telah berubah
Namun penuh senyum dan tawa bahagia
Air mata haru mewarnai tembang temu
Dua insan yang mencari jejak kenangan
Dalam tarikan rasa saling merindu
Bidikan rasa cerita cinta
Yang akan meniti cerita panjang
Menebar aroma wangi seribu bunga surgawi

Gemersik dedaunan kering ditiup angin
Terdengar bagai gemerincing rebana
Tak ada keluhan alam
Tak ada gundah dan tawar hati

Bahagia hati dua insan yang berbalut rindu tercurah
Suka cita, hati berpaut menyatukan rasa
Jemari cinta berpadu erat, itulah cinta..
Aluran jiwa yang mengalirkan gelora di dada
Cinta membuka pintu hati,
Kasihnya membelai, lekat di kebersamaan

Cinta ini akan terus ada
Lebih dari waktu yang akan berlalu
Aku akan tetap memanggil rembulan sebagai saksi malam
Membelai dengan rasa sayang sebening embun
Seperti bahasa kasihku kemarin dan hari ini
bolehkah..
Hatiku menyapa tetap dengan cinta?

Rabu, 31 Oktober 2012

Warna Kehidupan Bersamamu dan Tanpamu

Posted by Unknown Rabu, Oktober 31, 2012, under , | No comments


Saat Sekian lama ketika waktu memperbolehkan berjalan dan ruang memperbolehkan mempertemukan 
saat itu aku ingin menyampaikan lewat desikan angin di pagi hari dan lembutnya sinar rembulan di malam hari
bahwa disini hanya aku seorang diri secara sengaja dan tanpa sengaja telah bertemu dengan keadaan yang hampa sunyi tanpa hadirnya seorang yang aku rindukan namun bukan itu yang lebih aku rasakan sekarang. Aku merindukanmu, aku mengagumimu , sungguh hingga aku tidak pernah tahu letak kesalahanku mengapa aku berubah seperti ini.
inginkan hari yang indah , bahkan lebih indah ketika warna pelangi mulai muncul diwaktu rintiknya hujan pertama kali. Hingga banyak orang terlihat begitu merindukan kemunculan paduan warna agung di atas langit , namun sangat dan begitu sangat disayangkan gedung-gedung tinggi di setiap sudut kota seakan menjadi penghalang bagi kami untuk melihat salah satu tanda kekuasaan-Nya. Disaat itu do'a terkutuk dari sebagian orang jikalau memang di ijinkan untuk melihatnya ingin sekali gedung-gedung itu saja yang roboh hingga kami semua bisa melihat pelangi tersebut.
Warna kehidupan ketika aku bersamamu, sama halnya dengan perasaan yang begitu penasaranya kepada warna pelangi itu. Pada kenyataan aku begitu mengharapkan dia, namun takut untuk jatuh cinta, rindu mulai menghampiri di setiap lakuku. Tuhan bantu aku untuk terus bisa memupuk rasa cintaku kepada dia, bantu aku untuk terus menjadi yang dia inginkan bantu aku untuk menjadi perubahan sempurna bagi kehidupan kami kelak. Apa alasan ku jatuh cinta kepada dia, seorang yang dengan sikapnya mampu mengarahkan aku hanya satu alasan mengapa demikian
" karena Dia datang sebagai bayangan nyata, menutup kenyataan pahit di masa lalu, mengukir mimpi seindah mungkin, mengarahkan aku sebagaimana dia berhak atas kepimimpinan karena dia datang sebagai masa depanku". 
Untukmu aku selalu mencintaimu, sebagaimana sikapmu , seadanya dirimu , semampu kekuatanmu,  dirimu tetap satu.
Tetaplah menjadi bulan yang merindukan hadirnya bintang, pun demikian dirimu yang kuharap mengharapkan hal yang sama akan hadirnya diriku. selamanya 
Kasih , aku mencintaimu..

To : Choirul Efendi
By : Enny Efendi

Sabtu, 27 Oktober 2012

Ketika Rindu Datang

Posted by Unknown Sabtu, Oktober 27, 2012, under ,, | No comments


Rindu bagaikan rantai yang tak pernah putus
Melilit di tiang hati, di tiang ilusi
Sesekali disinggahi burung yang mengelakkan kabut
Pada dinginnya pagi yang menghadang bias mentari

Rindu bagaikan bangunan yang kokoh tak bisa tumbang
Tegak di tengah kota kehidupan, di sepanjang masa usia
Di situ tergantung kerlap-kerlip lampu kenangan dan ingatan
Biarpun hari semakin tua kelam dan usang

Rindu bagaikan lorong-lorong yang tak pernah tertutup
Dari musim ke musim ia menjadi laluan
Pengelana yang mencari cintanya yang hilang
Di hamparan ilalang yang telah bertukar warna
Pohon dan bunga, daun silih berganti segar, lalu layu dan kuncup

Rindu bagaikan musim yang tak pernah tenteram
Resah datang gelisah berulang menelisik, mengusik
Hanya dzikir dan doa menjadi penawar pereda perih
dan sakit
Terkadang puisi menjadi nyanyian yang mengharukan
Dalam sunyi tak terasa bulir-bulir kristal menitik

: ... oh rindu

Ketika Pagi

Posted by Unknown Sabtu, Oktober 27, 2012, under , | No comments


Sudah pagi... Semakin tak terperi, masih kulihat kunikmati namun belum saja terobati
Pada semak katanya, pada rimbun ceritanya aku menjumpainya dengan diam
Kutelusuri dengan rasa... Sungguh tak terkata
Tak kutemukan bulan atau matahari namun jumpa dengannya adalah sama

Duhai kau!
Telah lihat, sajakku mulai mengurus, membuatku menjerit pada lebatnya hujan keberanian
Pada berjuta kata beribu kalimat, aku tak akan mengatupkan rahang sebelum memanggilmu
Ketika kata menyanyikan lagu dengan kalimat rindu
Setelah sekian kali bertukar cerita bertukar senyuman
Kau, tak terlupakan

Sekian pekan, tanpa bisikkan
: aku rindu kau pujaan